Tel: (021)75875943 ext. 1123 Email: sekr-ptrim@bppt.go.id

Memasuki Tahap Awal Pengembangan Desain Kapal Mini LNG, PTRIM melakukan kunjungan ke PT PLN

 

Dalam rangka penyusunan program prioritas bidang kemaritiman 2020 – 2024. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), yang wakilkan oleh unit kerja Pusat Teknologi Rekayasa Industri Maritim (PTRIM) melakukan kunjungan kerja ke PT.PLN pada hari Senin lalu (04/03/2019). PLN sebagai mitra pengguna nantinya, diharapkan dapat memberikan informasi terkait data-data kondisi eksisting kapal mini LNG sejalan dengan kegiatan Inovasi Teknologi Kapal Mini LNG yang tengah disusun oleh PTRIM-BPPT.

Dalam rapat ini PT. PLN diwakilkan oleh Bapak Solikhin selaku VP Perencanaan dan Evaluasi Energi Primer pada Divisi Gas dan BBM menjabarkan data-data maupun kendala yang dihadapi oleh PLN sehingga membutuhkan kapal mini LNG. Sedangkan dari PTRIM ada Abdul Kadir, M.Eng selaku Kepala Bagian Program dan Anggaran), Iskendar, selaku Kepala Program Inovasi Teknologi Industri Perkapalan, Abdul Muis selaku  Group Leader Inovasi Teknologi Kapal Mini LNG dan Dimas Aldyanto selaku Engineering Staff.

Salah satu kendala yang dialami oleh PT.PLN adalah rendahnya sarat air laut (shallow water) pada daerah daerah yang akan menjadi rantai pasok mini scale LNG. Berdasarkan data yang diperoleh PT.PLN sarat yang diperlukan untuk kapal mini scale LNG adalah 8 m sementara untuk bisa mencapai sarat tersebut diperlukan jarak sepanjang 1,2 Km dari pantai. Sehingga diperlukan fasilitas jetty agar kapal mini scale LNG dapat melakukan aktivitas loading-unloading.

Namun untuk pembangunan fasilitas jetty tersebut masih sangat mahal dan belum feasible menurut PLN hal ini disebabkan masih belum ditetapkannya harga standarisasi untuk gas yang didapat dari LNG sehingga menyebabkan harga LNG sangat fluktuatif bergantung pada harga ICP dan kurs rupiah. Berdasarkan data PLN untuk ICP Well Head berkisar diangka 8% sedangkan untuk ICP Non Well Head berkisar diangka 14,5 %.

Kemudian untuk supply chain mini LNG juga mengalami kendala tekait dengan skema pengiriman yang masih sangat konvensional sehingga harga LNG sebagai bahan bakar mengalami peningkatan. Hal ini juga sangat erat kaitannya dengan system distribusi LNG yang panjang  dan membutuhkan biaya lebih.

Kemudian untul kendala pembangunan yang dialami meliputi kurangnya fasilitas dry dock yang dimiliki Indonesia untuk membangun lambung kapal mini scale LNG. Berdasarkan data yang didapat PLN dimensi  dry dock PT PAL adalah lebar 60 m dan panjang 160 m sedangkan untuk membangun mini scale LNG yang dibutuhkan minimal memiliki lebar 120 m sehingga diperlukan solusi mengatasi kendala ini. Kemudian untuk manufaktur tanki small scale LNG belum dapat dilakukan di Indonesia sehingga masih diperlukan campur tangan pihak asing dalam mendesain tanki LNG tersebut.

PLN juga menyarankan dilakukannya kerja sama antar instansi pemerintah agar terjadi sinergi didalam pemanfaatan kapal mini scale LNG secara maksimal baik dari desain, pembangunan maupun operasional. Sehingga dibutuhkan surat penugasan yang menerangkan kerja sama yang meliputi : BKI (Biro Klasifikasi Indonesia) selaku klasifikasi nasional, PT PAL selaku industri galangan kapal nasional, SKK Migas selaku pembangun infrastruktur pendukung LNG dan PLN selaku user yang akan menggunakan kapal mini scale LNG.

 

Statistik Pengunjung

0.png9.png0.png5.png8.png8.png
Today105
Yesterday111
This week414
This month2628
Total90588

 

 

 

Hubungi Kami

Gedung Teknologi 2 lantai 3 Kawasan PUSPIPTEK

Setu Tangerang Selatan 15314

Telp : (021)75875943 ext. 1123

Fax  : (021)75791280)

Email : sekr-ptrim@bppt.go.id